KONSULTASI
Logo

Harga TBS Sawit Periode 22–28 Juni 2026 Naik, Namun Petani Swadaya Masih Tertinggal Jauh dari Plasma

29 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Harga TBS Sawit Periode 22–28 Juni 2026 Naik, Namun Petani Swadaya Masih Tertinggal Jauh dari Plasma

sawitsetara.co - JAKARTA – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit pada periode 22–28 Juni 2026 mengalami kenaikan baik pada skema plasma maupun swadaya. Meski demikian, kesenjangan harga antara petani plasma dan petani swadaya masih cukup lebar, menunjukkan bahwa posisi tawar petani mandiri masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam industri sawit nasional.

Berdasarkan Laporan Harga TBS Kelapa Sawit APKASINDO yang mencakup 22 provinsi, rata-rata harga TBS skema plasma mencapai Rp3.415 per kilogram, naik Rp7/kg atau 0,2 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Sementara itu, harga TBS petani swadaya berada di level Rp2.947/kg, meningkat Rp30/kg atau sekitar 1 persen secara mingguan.

Walaupun kedua skema sama-sama mengalami penguatan, rata-rata harga TBS petani swadaya masih lebih rendah Rp468/kg atau sekitar 15,9 persen dibandingkan plasma. APKASINDO mencatat bahwa kondisi tersebut terjadi di seluruh 22 provinsi yang memiliki data lengkap, sehingga belum ada satu pun daerah di mana harga TBS swadaya mampu melampaui plasma.

Menurut APKASINDO, kondisi tersebut mencerminkan bahwa posisi tawar petani swadaya terhadap pabrik kelapa sawit masih lemah sehingga membutuhkan penguatan melalui berbagai kebijakan maupun kelembagaan petani.

Sawit Setara Default Ad Banner

Secara regional, Sumatera Utara masih menjadi provinsi dengan harga TBS plasma tertinggi di Indonesia, yakni mencapai sekitar Rp3.781/kg. Di sisi lain, harga TBS swadaya terendah tercatat di Provinsi Banten, yaitu sekitar Rp2.534/kg.

Untuk Provinsi Riau, yang merupakan salah satu sentra sawit terbesar nasional, harga TBS plasma berada di kisaran Rp3.770/kg, sedangkan harga TBS swadaya mencapai Rp3.270/kg. Selisih harga antara kedua skema di provinsi tersebut sekitar Rp500/kg atau sekitar 15,5 persen.

Laporan APKASINDO juga menunjukkan bahwa Sumatera Barat menjadi provinsi dengan kesenjangan harga terbesar antara plasma dan swadaya.

Di daerah tersebut, harga TBS plasma mencapai sekitar Rp3.754/kg, sedangkan harga TBS swadaya hanya sekitar Rp2.820/kg, sehingga terdapat selisih sekitar Rp934/kg. Kondisi ini menjadi indikasi bahwa petani swadaya di Sumatera Barat membutuhkan perhatian khusus untuk memperkuat posisi tawarnya terhadap industri pengolahan sawit.

Sebaliknya, kesenjangan harga paling kecil terjadi di Sulawesi Selatan, dengan selisih hanya sekitar Rp80/kg, menandakan harga antara plasma dan swadaya di wilayah tersebut relatif lebih seimbang.

Berdasarkan rata-rata wilayah, Pulau Sumatera masih mencatat harga TBS plasma tertinggi, yakni sekitar Rp3.598/kg, diikuti Kalimantan sekitar Rp3.486/kg, Papua sekitar Rp3.422/kg, Sulawesi sekitar Rp3.146/kg, sementara wilayah Jawa menjadi yang terendah dengan rata-rata sekitar Rp2.751/kg.

Untuk harga TBS swadaya, Sumatera juga memimpin dengan rata-rata sekitar Rp3.051/kg, sedangkan Jawa kembali menjadi wilayah dengan harga paling rendah, yakni sekitar Rp2.534/kg.

Sawit Setara Default Ad Banner

Harga Masih Jauh dari Nilai Wajar

Meski mengalami kenaikan, APKASINDO menilai harga TBS saat ini masih jauh dari nilai yang seharusnya diterima petani apabila mengacu pada harga CPO dunia.

Dengan menggunakan acuan harga CPO internasional, rendemen 21 persen dan indeks K sebesar 85 persen, APKASINDO menghitung nilai wajar TBS mencapai sekitar Rp5.012/kg.

Sementara itu, rata-rata harga plasma baru mencapai Rp3.415/kg, atau sekitar 31,9 persen di bawah nilai wajar. Kondisi petani swadaya bahkan lebih berat karena rata-rata harga yang diterima baru Rp2.947/kg, atau sekitar 41,2 persen di bawah nilai wajar.

Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa petani, khususnya petani swadaya, belum menikmati harga yang proporsional terhadap perkembangan harga minyak sawit mentah di pasar dunia.

Melihat tren harga selama enam bulan terakhir, APKASINDO memperkirakan harga TBS nasional dalam empat pekan mendatang akan bergerak relatif stabil.

Harga plasma diproyeksikan bertahan di kisaran Rp3.418–Rp3.429/kg, sedangkan harga swadaya diperkirakan berada di rentang sekitar Rp2.623–Rp2.704/kg. Meski demikian, APKASINDO menegaskan bahwa proyeksi tersebut bersifat statistik dan hanya menjadi indikator, bukan jaminan harga di lapangan.

APKASINDO juga mengingatkan bahwa harga resmi TBS tetap ditetapkan setiap pekan oleh Tim Penetapan Harga TBS di masing-masing provinsi dengan mempertimbangkan harga CPO, nilai tukar, rendemen, serta berbagai kebijakan pemerintah. Oleh karena itu, laporan ini diharapkan menjadi bahan edukasi sekaligus advokasi untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan petani sawit, terutama petani swadaya yang hingga kini masih menghadapi disparitas harga cukup besar dibandingkan petani plasma.

Informasi lebih lengkap terkait harga TBS kelapa sawit nasional, silakan klik hargasawitindonesia.id.

Tags:

harga TBS

Berita Sebelumnya
KPPU Selidiki Dugaan Kartel Harga TBS Sawit di Pesisir Selatan, Panggil DPRD Sebagai Saksi

KPPU Selidiki Dugaan Kartel Harga TBS Sawit di Pesisir Selatan, Panggil DPRD Sebagai Saksi

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) memulai penyelidikan awal atas dugaan praktik kartel dan monopsoni dalam pembelian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kebun swadaya di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

28 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *